Jumat, 03 Juni 2011

Kapolda Sumut: Pers jangan takut sama polisi.

Kapolda Sumut, Irjen Wisjnu Amat Sastro, meminta insan pers di Sumatera Utara untuk mengkritik kinerja kepolisian dan jangan takut menulis polisi yang bertindak nakal dengan identitas lengkap sebagi kontrol kinerja polisi.

Dikatakan, dalam era transparan dan akuntabel seperti saat ini, tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Untuk itu, ia meminta jurnalis untuk turut bekerjasama menunjukkan apabila ada kelemahan atau kekurangan di instansi yang dipimpinnya. “Pers selaku social control, tolong kami diawasi, koreksi, dimonitor dan berikan masukan konstruktif. Kami juga manusia biasa, bukan superman yang tidak luput dari kekurangan dan kelemahan,” ujar Kapolda di Mapolres Tanah Karo di Kabanjahe, tadi malam.

Alumni Akademi Kepolisian tahun 1978 itu berjanji, sepanjang sesuai fakta dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya akan segera ditindak tegas. “Kalau ada aparat polisi berbuat salah, tolong ditulis dengan jelas nama lengkapnya. Tapi, jangan mengada-ngada apalagi tendensius,” tukasnya.

Kapoldasu mengakui, mengubah imej Sumut yang terlanjur negatif, memang tidak mudah. Dibutuhkan keinginan kuat dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Dalam menjaga suasana kondusif di Sumatera Utara, ia mengharapkan agar semangat toleransi antar umat, baik agama maupun etnis dapat terus dipelihara.

“Umat mayoritas maupun minoritas harus saling menghargai dan menghormati sehingga semangat toleransi antar umat di Sumut tetap terjaga dan terpelihara. Dengan kondusifnya Tanah Karo Simalem ini, tentunya akan mendatangkan para investor,” tutur suami dari Mutiara Br Sitepu ini.

Ia juga meminta seluruh jajaran Polda Sumut, diharapkan berubah menjadi Polisi yang baik dan humanis, sebab masyarakat sudah merindukan aparat penegak hukum yang tegas, berwibawa, bersih dan tidak pandang bulu. “Jangan karena yang datang itu nande-nande (ibu-ibu-red) yang berjualan di pinggir jalan atau parengge-rengge (pedagang di pasar-red) tidak dilayani dengan baik,” katanya.

Disebutkannya, sejak orde baru jatuh hingga berjalannya 13 tahun era reformasi, perubahan melayani masyarakat semakin baik semakin dituntut. Ia menganalogikan bahwa selama ini orang yang kehilangan ayam, dan melaporkannya ke polisi tetapi kemudian yang hilang menjadi kambing.

“Melaporkan kambing hilang, akhirnya yang hilang lembu dan begitu seterusnya sehingga membuat masyarakat enggan untuk berurusan kepada polisi. Demikian juga saat si pelapor membuat aduan ke polisi ternyata si pelapor harus menunggu beberapa saat,” katanya.

Untuk itu, imbuhnya, saat ini Polda Sumut akan melakukan pembenahan untuk memperbaiki citra Polri. Beberapa strategi yang akan dilakukan adalah membangun kepercayaan (Trust Building) terhadap masyarakat. Kedua, menjalin partnership atau jalinan kerjasama dan yang ketiga adalah pelayanan prima. “Dengan kiat-kiat itu, kita optimis Polda Sumut akan lebih baik dan tentunya akan membantu visi misi Kapolri. Revitalisasi Polri menuju Pelayanan Prima Guna Meningkatkan Kepercayaan," pungkas Kapolda yang 20 tahun lalu sudah ditabalkan menjadi marga Ginting Munte ini.
@ REI.
Sumber : E Silitonga, wpd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar